SELAMAT DATANG
DENGAN DALIH KEBERSAMAAN MARILAH KITA
RANGKAI PERTEMUAN INI DENGAN KARYA,
HINGGA RINDU TAK PERNAH BERLABUH DARI KERINDUANNYA.
KERINDUAN ITU TERKADANG DARIKU, KAU, DIA DAN DIA
Senin, 2009 Juni 29
Menampar Bulan
Dia tak hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Namanya Qadriyah. Dan teman-temannya memanggil Ria. Gadis belia yang tak pernah bosan bersama malam walaupun hujan turun dengan derasnya, dia memang sudah setia pada dingin malam. Sebagaimana setianya pada Yus, kekasihnya yang telah meninggalkannya sekian lama. Entah berapa lama dia menghitung perpisahan yang seakan berlanjut untuk selamanya.
“Dinda besok aku mau merantau ke negeri tetangga” Kata Yus padanya, sambil membelai rambutnya yang lurus.
“Berapa lama kau akan menanam benih rindu pada diriku?” Tanyanya dengan nada gelisah.
“Entah berapa lama dinda. Tapi bila suatu hari nanti engkau rindu padaku. Maka tataplah rembulan, maka kau akan melihatku terbayang-bayang. Dan bila kau ingin mengetahui keadaanku ditanah orang lain. Maka bertanyalah pada rembulan” kata Yus meyakinkan kesetiaannya pada Ria.
Itulah sebabnya Ria bersahabat dengan malam. Saat siang datang, Ria begitu gelisah. Bila sore menjelang, bibir manisnya terkulum untuk matahari senja. Dan bila malam datang dia setia menunggu hingga fajar menjelang kembali bersama gelisahnya yang bangkit kembali.
Namun, kesetiannya pada malam sebagaimana setianya pada Yus tidak menghasilkan apa-apa. Dia tak hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Menyaksikan bulan dengan penuh pengaharapan. Beberapa kali dia lontarkan pertanyaan tentang kabar kekasihnya pada rembulan. Namun, rembulan tidak pernah merespon apapun. Bahkan saat pertanyaan dia lontarkan, rembulan bersembunyi dibalik awan seakan-akan pertanyaan itulah yang paling ditakutinya.
Dia tak hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Malam itu Ria tetap bersama malam dan bersahabat dengan dingin. Dia terus memandang rembulan tanpa ada rasa putus asa yang bersemayam dalam dirinya. Mata nanarnya yang berkaca-kaca dan hampir pecah tidak pernah dia pedulikan. Dia tetap menatap rembulan bahkan hingga kapanpun dia sanggup, bila wajah kekasihnya belum tampak. Malam semakin larut dia masih setia bersama malam, sebagaimana setianya pada Yus. Fajar kembali datang bersama gelisahnya, Ria pun tertunduk menuai kecewa pada rembulan.
Siang, Ria menyulam nama kekasihnya pada tiap kain yang ada, dan mengukir namanya pada setiap dinding kamarnya. Dan penuh pengharapan kekasihnya datang dan membaca namanya disetiap tempat. Ria tidak pernah berhenti berharap, rindunya telah mendarah daging.
Malam kembali datang, Ria tak henti-hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Berkali-kali dia bertanya pada rembulan tentang kabar kekasihnya, tapi tak kunjung ada berita baik ataupun buruk yang di ucapkan oleh rembulan padanya. Pertanyaan tak hentinya di lontarkan hingga bibirnya kaku, tapi bulan malah bersembunyi di balik awan karena tak sanggup melihat raut wajah sedih dan penuh kekecewaan gadis belia. Saat rembulan kembali muncul, Ria pun kembali bertanya tapi rembulan malah kembali bersembunyi dibalik awan. Hingga fajar kembali bersama gelisahnya, Ria belum mandapat kabar tentang kekasihnya secuil pun.
Siang, Ria kembali menyulam dan mengukir nama kekasihnya disetiap dinding kamarnya.
Ria masih setia, hingga malam kembali. Namun, malam ini masih seperti dengan malam yang kemarin. Hingga fajar rembulan belum juga muncul. Dan bila siang datang, Ria kembali menyulam dan mengukir nama kekasihnya.
Siang dengan sulamannya, sore dengan kuluman senyumnya, malam dengan setianya, dan fajar dengan gelisahnya. Ria telah lalui tanpa putus asa. Dia masih yakin dapat menatap wajah kekasihnya pada Rembulan dan menanyakan kabar kekasihnya juga pada rembulan.
Kali ini Ria kembali berharap melihat dan mendapatkan kabar tentang kekasihnya dari rembulan. Karena malam ini adalah malam ulang tahun kekasihnya. Dia ingin memberikan kado sulaman buat kekasihnya. Rembulan masih tetap seperti pada malam-malam yang lalu. Tanpa wajah kekasih, tanpa kabar dan tetap bersembunyi dibalik awan.
Sudah empat puluh satu purnama Ria menunggu wajah kekasihnya pada rembulan beserta kabar tentang kekasihnya yang juga dari rembulan. Namun, tidak ada yang berhasil dan dia masih setia serta yakin rembulan akan mengirim wajah dan kabar kekasihnya.
Dalam kerinduan, Ria mengalami gangguan jiwa. Tapi dia tetap setia pada malam dan bersahabat pada dingin.
Di malam selanjutnya Ria menunggu rembulan dalam keadaan sakit, di bangku bawah pohon tempatnya sering menunggu wajah dan kabar kekasihnya. Dia begitu lelah dan tertidur, dan tidak setia lagi pada malam hingga fajar datang.
Ria mengumpulkan bambu dari desa yang terdekat dari kampungnya. Pohon-pohon bambu dia telah tebang hingga tidak ada sebatang pohon bambu dia sisakan untuk penduduk setempat. Dan penduduk Cuma diam seakan telah mengerti apa yang dirasakan oleh Ria.
Dia merangkai semua bambu yang telah dia tebang selama berminggu-minggu, dan menjadikan tangga yang menjulang tinggi ke langit. Semuanya dia lakukan dengan sendirinya tanpa ada letih, yang ada Cuma kekesalan bukan rindu.
Tangga yang dia buat telah selesai, dia melewati anak-anak tangga yang lambat laun semakin tinggi. Dia tidak peduli lagi seberapa tinggi dia meningglakan bumi. Dia Cuma memikirkan, bagaimana caranya dia melewati ribuan anak tangga dan sampai di hadapan rembulan sebelum fajar tiba.
Malam ini memang purnama terang benderang, namun Ria masih jauh dari rembulan. Dia mempercepat gerakannya menaiki ribuan anak tangga. Beban tubuhnya sudah berkurang, gravitasi bumi sudah tidak menjangkaunya lagi. Dia semakin bersemangat.
Bulan sudah dekat darinya, sinaran purnama sungguh terang dan menyilaukan mata Ria. Dia pun Istrahat sejenak, hingga lelahnya agak sedikit berkurang. Raut wajahnya berubah geram. Dilihatnya wajah kekasihnya dibumi berduaan dengan seorang wanita lain.
Ria kembali menaiki anak-anak tangga yang tersisa, hingga bulan pas di depan matanya. Dia tak mau lagi menegok ke belakang. Ria menghakimi Rembulan yang tidak mau jujur mengatakan hal yang sebenarnya.
Marahnya memuncak, rembulan Cuma diam. Amarahnya tak terbendung, dengan kekesalan pada rembulan. Ria menampar rembulan hingga rasa sakit yang tak terkira. Rembulan menangis dengan keras hingga menjadi bunyi guntur dan hujan pun turun dengan deras.
Ria yang tertidur pulas dari tadi di bawah pohon, dibangunkan oleh guntur dan hujan yang deras. Dan menghamburkan semua mimpi-mimpinya.
Sabtu, 2008 November 29
WANITA YANG MENEMANIKU HINGGA SEPERTIGA MALAM
Aku mencoba membayangkan wajah Cleopatra. Apakah dia cantik seperti kau? Ataukah dia manis dengan memakai kacamata seperti kau pula? Aku tidak tahu, itu mugkin saja karena kata orang kebanyakan dia sungguh memukau pada zamannya. Kalau begitu aku akan belajar kata-kata yang romantic untuk menggombalmu. Sayang, kau tidak suka gombal. Aku baru ingat. Tapi satu lagi kau suka kejutan.
Kebimbangan dan keresahan semakin bergelayut. Akhirnya aku coba untuk menelpon nomor HPnya. Walaupun aga gugup, aku akan memastikannya dia tidak kenapa-kenapa. Sudah dua bulan dia tidak hadir dalam malamku. Biasanya dia setia menemaniku hingga sepertiga malam. Mungkin saja Tuhan marah padaku dan menarik utusannya untukku.
Minggu, 2008 Mei 04
PUISI
Supratman Yusbi Yusuf
Cuma 3x3
sederhana
tidak luas, tidak sempit
Cuma kelapangan hati
Cuma kesunyian
remang-remang
tidak sepi, tidak ramai
Cuma ketenangan jiwa
ah…..
dalam kamar ini
kuadukan nasib
tanpa dikau
dalam kamar ini
kupadukan cinta dan amanah
untuk dikau
agar kau tahu aku bukanlah
seorang pengejut, pengkhianat
bahkan benalu terhadapmu
agar kau aku adalah
seorang yang kau inginkan
sebagai pewujud segala mimpi-mimpimu
dengan cinta dan amanah
akan kubuktikan padamu
ihktiar hidup akan sebuah keberhasilan
ihktiar hidup akan sebuah mimpi-mimpi indah
UNTUK AKU, KAU, DIA DAN DIA
Supratman Yusbi Yusuf
Telah kutitip keresahan ini untuk dikau
Tapi bukan karena pesimis
Karena aku menitipnya bukan tanpa sebab
Tapi untuk kau resahkan juga
Telah kubagi rindu ini
Untuk dia dan dia
Agar dia dan dia merasakan rinduku
Dan membaginya untuk mereka
Karena keresahannku adalah keresahan akan kedamaian
Karena keriduanku adalah kerinduan akan kedamaian
Untuk aku,kau,dia dan dia.

