SELAMAT DATANG
DENGAN DALIH KEBERSAMAAN MARILAH KITA
RANGKAI PERTEMUAN INI DENGAN KARYA,
HINGGA RINDU TAK PERNAH BERLABUH DARI KERINDUANNYA.
KERINDUAN ITU TERKADANG DARIKU, KAU, DIA DAN DIA
Sabtu, 27 Februari 2010
SEBELUM AKU MENGAKHIRI
Sebelum aku mengakhiri, Izinkan aku membahagiakanmu di detik-detik terakhir menjelang perkawinanmu...
Pagi ini membuatku terasa malas, kepala terasa berat untuk diangkat oleh tubuh ini walaupun hanya satu centimeter saja, mata pun ikut-ikutan, enggan juga rasanya dia memandang lebih lama. Langit-langit kamar seperti manyanyikan lagu nina bobo’. Sambil sesekali berbisik “tidurlah anak muda, sebentar kau bangun, kau butuh istrahat”.
Diluar kudengar teriakan penjual nasi kuning yang tiap pagi datang di depan kostku. Bunyi lonceng sepedanya membuat suasana pagi yang dikuasai kemalasanku terasa berisik. Ingin rasanya aku memarahinya lalu melemparkan semua nasi kuning jualannya. Bila melawan akan kuusir dia. Ini kan kostku, aku berhak mengusirnya untuk mendapat ketenangan. Kalau dia menuntut ganti rugi akan kuberikan uang lima puluh ribu, lalu kembali menyuruhnya pergi secepat mungkin. Namanya juga ganti rugi, orang sepertinya tidak perlu dikasihani. Kalau pun akhirnya dia melapor ke Polisi, aku juga punya kolega di kepolisian. Aku akan memanggil orang itu dan dia akan kutuntut balik karena telah menganggu ketenanganku. Polisi kan bertugas menjaga ketenangan dan ketertiban masyarakat. Dia tidak akan punya alasan pembenaran sama sekali, karena bagaimana pun tempat kost itu bukan tempat jualan nasi kuning. Kalau dia berdalih tidak punya tempat jualan karena dilarang oleh petugas ketertiban kota. Itu bukan urusanku lagi. Pokoknya dia akan kalah kalau melapor ke Polisi. Pokoknya orang kecil seperti dia tidak akan menang di dunia ini kecuali jualannya laku tanpa ada yang tertinggal basi.
“kuning, kuning... nasi kuning, kuning kuning.... nasi kuning, nasi kuning oeeee...” teriaknya
Geram juga akhirnya aku mendengarnya, teriakannya begitu mengusik dan membuyarkan imajinasi setengah tidurku. Imajinasi yang membuat dia sampai ke Polisi. Segera kuberdiri hendak keluar menemui penjual nasi kuning yang berisik itu. Aku akan mengusirnya kalau dia tidak mau pergi, aku akan berlaku kasar terhadapnya. Kaki kuayunkan secepat mungkin menuruni tempat tidur. Tapi tiba-tiba sebuah novel karya Paolo Coelho dengan judul Sang Alkemis yang telah mengantar tidurku semalam terjatuh ke lantai. Beberapa lembar foto berserakan telah menghalau langkahku untuk mengusir penjual nasi kuning itu.
Teriakan-teriakannya tidak terdengar lagi, foto-foto berserakan itu telah melarutkan semua kemalasan, kejengkelan dan kegeraman menjadi kerinduan. Kupunguti foto-foto itu dan tanpa menyadari aku telah lama memperhatikan lembar per lembarnya. Aku tidak mampu menjelaskan itu foto siapa. Yang jelas dia sebentar lagi akan menutup riwayat cintanya padaku.
Pada sebuah acara salah satu organisasi perhimpunan antara mahasiswa yang konsen membahas persoalan bumi dan lingkungan sekitar. Gadis yang energik hingga dia nampak kelihatan tomboy, tetapi tetap menitipkan aura feminim pada mata-mata yang memandangnya. Awalnya aku segan menyapanya bahkan sampai kegiatan selesai pun aku belum mengeluarkan sepatah kata pun untuknya. Aku Cuma memandangnya dari jauh, ia begitu lincah dan tertawa bersama temannya. Dari temanku aku tahu dia seorang mahasiswi sekampusku, salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di kotaku, Makassar. Berlian namanya.
Selepas acara aku pun kembali ke kost. Kurebahkan tubuh di atas kasur. Terasa letih menyerang tubuh yang kurus ini. Walaupun kata orang-orang tubuhku tinggal tulang dan dosa, aku tetap enjoy. Sebenarnya aku pun kurang percaya akan adanya nilai perbuatan manusia. Adanya upah akan perbuatan yang dilakukannya. Kalau kita berbuat baik, akan dapat pahala. Kalau buruk akan dapat dosa. Baik dan buruk itu ukuran siapa,? Pikirku.
Menurut ukuranku sendiri, berbuat baik itu bila ada kesesuaian antara pikiran dan perbuatan. Rasanya tiap hari aku telah berbuat baik, jadi tidak ada dosa yang terbungkus oleh kulitku yang kecoklatan ini. Kukusut-masai rambutku, panjangnya sudah sampai sebahu. Pernah suatu hari ibuku marah-marah tentang rambutku yang panjang ini. Hal itu terasa lucu dikenang.
Waktu itu aku ketiduran di sofa rumahku. Tiba-tiba Ibuku datang dari atas kepalaku sambil membawa gunting. Untung aku belum tertidur nyenyak, aku rasa dia memegang rambutku dan mendekatkan gunting di kepalaku. Aku pun spontan berdiri dan membuatnya kaget. Gunting terlepas dari tangannya dan ikut bergantung pada rambutku yang lebat dan tidak lurus. Merasa misinya gagal dia pun menempuh misi lain yakni marah sepuasnya.
“owe, kau potong itu rambutmu, sudah panjang kayak setan saja” katanya.
Aku Cuma terdiam dan tersenyum sambil membuka gunting yang bergantung di rambut.
“kau liat itu badanmu kurus sekali, seperti kayak tulang dan dosa saja. Semua nasi yang kau makan itu semua dimakan rambutmu, jadi kau tambah kurus”
Dia sebut juga kalimat tulang dan dosa itu. Ibu... ibu... dari mana pula kau dapat istilah itu. Aku tetap diam.
“liat itu kau kayak preman, badan kurus, muka lonjong, rambut panjang, kumis tebal. Sangat jauh seperti ayahmu waktu aku kenal dulu. Badan tegak, kulitnya halus kayak prempuan yang membedakannya kumisnya rapi” katanya lagi
Setan, tinggal tulang dan dosa, preman, diperbandingkan lagi. Ah... sabar, itu Ibuku. Aku menghargainya karena surga di telapak kakinya.
“ini gaya masa kini bu...” jawabku waktu itu dan dia terus membalas dengan umpatan.
Tiba-tiba khayalanku kembali terputus. Handphone yang di kantong celana mendering. Sebuah pesan singkat untukku.
“Ass. dngn ka’ Ammang ya? M’f ganggu ka’? aku mw nax ssua2. Blh ng? berlian”
Sontak aku kaget, dari mana dia dapatkan nomor handphoneku. Aku pun segera membalasnya.
“iya, bnar dinda. Knpki?”
“kata tmnku qta sring baca buku ya?hehehe, katax juga buku yg mngkaji soal kebudayaan”.
“oh... dari mana kau tahu?”
“dari teman kakak, kak Anto”
“oh... tidak juga sih”
Smsan pun terus berlanjut. Hingga tercipta sebuah janji untuk bertemu. Besok sore aku harus menemuinya disebuah warung kopi, sesuai dengan permintaannya aku harus mebawakannya literatur-literatur tentang budaya. Dia ingin mendalami persoalan budaya, katanya.
Sesuai janji kami berdua, aku pun menepatinya dan membawakannya buku yang berjudul “dunia yang dilipat” karya Yasraf Amir Pilliang. Dia senang menerima buku itu.
Dia kemudian bercerita panjang lebar tentang budaya di daerahnya, hingga akhirnya dia pun bercerita tentang keluarganya dan segala tetek bengeknya. Aku sendiri tidak begitu tahu, mengapa dia begitu terbuka padaku. Pertemuan demi pertemuan pun kerap kali terjadi. Hingga aku sendiri malas untuk menghitung pertemuan itu. Hampir tiap waktuku habis untuknya, membalas smsnya yang kadang manja dan nakal dengan pertanyaan ataupun dengan pertemuan-pertemuan baik itu di kampus maupun di luar kampus.
Tak terasa waktu berputar semakin mendekatkan kami. Seakan tiap malam adalah jadwal rutin kami untuk bertemu. Ada-ada saja yang dibicarakan pada pertemuan-pertemuan tiap malam itu. Seakan topik tak pernah habisnya untuk dibahas. Dia kadang mengungkapkan seluruh kegundahan, kejengkelan, sampai kebahagiaannya padaku. Kisah tentang temannya, kisah tentang lelaki yang merayunya semua di bahasakan melalui bibirnya yang entah berapa kali tersenyum padaku.
Semuanya berlalu begitu cepat. Mulai dari sms hingga berujung pada janji pertemuan. Petemuan yang melahirkan kedekatan, dan kedekatan itulah yang membawa kami pada sebuah kesenangan dan merasa cocok untuk tetap bersama. Hingga akhirnya aku menyatakan ingin memilikinya selamanya. Hadir dalam setiap hidupku, memberiku senyum yang lebih banyak lagi dari yang dia berikan selama ini. Dan dia pun mengiyakan.
Proses itu terasa lebih cepat di bandingkan denyut nadiku.
Dua tahun telah berlalu, aku menemuinya di kantin kampus sore itu. Kuliat dia menjinjing beberapa buku. Dia sedang menyusun skripsi, tidak akan lama lagi dia selesai mendahuluiku. Itu bukan menjadi masalah karena memang aku terlalu malas untuk mengikuti sebagian mata kuliah. Kadang karena tertidur dan malas bangun disebabkan begadang semalaman, urusan organisasi, atau hanya sekadar bercakap-cakap bersama teman membahas bualan.
Dia memintaku untuk membantu mencari bahan skripsinya. Aku senang dapat membantunya, sangat beda rasanya ketika Ibu atau adik perempuanku meminta bantuan terhadapku. Beberapa kali aku sempat mengantarnya ke berbagai perpusatakaan atau berusaha meminjamkan buku-buku kenalanku yang berkaitan dengan bahan skripsinya. Hingga akhirnya skripsinya pun selesai.
Aku pun juga merasakan kebahagiannya saat ujian akhirnya telah terjadwalkan. Namun, ada hal aneh yang memancar dari raut mukanya kali ini. Selama aku mengenalnya dua tahun terakhir ini raut muka itu sulit aku maknai. “Dia telah menyembunyikan sesuatu” pikirku.
Suatu sore sambil memandang kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Di sebuah warung kopi di batas kota, dia mengunkapkan hal yang begitu pahit untuk dikenang. Terasa waktu itu seluruh badan kaku, mata yang di pagi buta malas membelalak kini melotot lalu berkaca-kaca. Terasa tak percaya akan ucapannya. Dia pun mengusap matanya takut dilihat oleh orang lain kalau dia sedang menangis. Bagiku itu pertanda nasi sudah menjadi bubur. Kami berdua terdiam.
“sayang, kau tahu aku memanggilmu ke batas kota ini?” katanya memulai
“untuk minum kopi” jawabku
“bukan Cuma itu sayang”
Aku memandangnya tanpa suara meminta penjelasan.
“tadi pagi, pemuda di sebelah batas kota ini telah datang kerumahku. dia telah berbicara dengan orang tuaku dan hasilnya orang tuaku setuju. Aku anaknya dan aku ingin membahagiakannya, tetapi bukan berarti mau menyakitimu. Dia telah melamarku. Batas kota ini akan memisahkan kita setelah ujian skripsi nanti. Aku masih ingin kau mengantarkan aku besok untuk ujian, sebagai bukti kemenangan kita yang telah bersama menyusunnya, sayang” jelasnya
Kata sayang yang terakhir, beserta embel-embel sebelumnya itulah yang sulit bermukim di benak dan jiwaku. Ingin aku membuangnya tapi kata-kata itu telah melekat di takdirku. Pernahkah kalian bayangkan, betapa sulitnya menerima kenyataan ini. Mengantarkan kekasih untuk terkahir kalinya di ujian akhir pula dan setelah itu kita tahu sendiri bahwa dia tidak lagi bersama kita. Batas kota telah memisahkan jarak yang tak begitu jauh dan dia telah menjadi milik orang lain yang resmi menurut agama dan adat. Aku telah tahu bahwa sebagian baik dan buruk itu diatur oleh agama dan adat.
“lalu kau katakan apa pada lelaki itu? Tanyaku mencoba menguasai diri.
“tidak berkata apa-apa, aku Cuma menangis”
“kenapa kau tidak menolaknya?, kenapa kau terima, aku tidak percaya kau sebodoh ini, kau pasti bermain-main kan? Kau mau menguji kan?” tidak aku rasa suaraku semakin besar dan berdiri dari kursi sambil menunjuk-nunjuknya. Aku sadar bahwa aku larut dalam kesedihan bercampur emosi dan para pengunjung berbalik pada meja kami.
Dia tetap saja menangis, menangis dan menangis. Dia menangis tanpa suara tapi air mata yang di pelipis sebagai jawaban bahwa dia takut padaku yang telah kasar dan membentaknya. Kembali aku duduk pada kursi.
“maafkan aku yang tidak bisa menolaknya, aku ingin membahagiakan ibuku, itu saja” katanya
Apakah orang tua lebih penting di bahagiakan daripada orang lain? sungguh sesuatu hal yang aneh bagiku. Mengapa semua orang harus berpikir yang sama dan satu ujung, membahagiakan orang tua. Mengapa? Mengapa mesti itu terjadi kalau membuat orang lain tersakiti. Dunia ini yang sakit atau aku yang kurang mengerti.
“lalu, kau rela sekarang?” tanyaku
Dia mengangguk. Pikiranku kembali menerawang jauh, berusaha mengumpulkan kisah-kisah hidupku yang terdahulu hingga pada malam ini, di batas kota ini. Tiba-tiba memory ini berhenti pada sosok wanita sebelum dia.
Sebelum aku menyayanginya dua tahun yang lalu, aku telah berusaha melupakan seorang wanita yang pernah hidup dalam jiwaku dengan subur. Aku meninggalkannya karena terlalu posesif. Tapi dia sangat menyayangiku katanya. Aku kembali teringat dengannya, apakah perasaannya yang dulu sama dengan perasaanku sekarang. Sudahlah... aku ingi melupakanmu, kanapa kau muncul lagi? Bodoh...
“kenapa ini bisa terjadi sayang” tanyaku agak melunak.
“ibu bilang, sejak kecil aku telah dijodohkan dengannya” jawabnya
“lalu kenapa tidak bilang dari dulu?” tanyaku sambil mengelengkan kepala sekali lalu tunduk menanti jawaban.
“aku juga baru tahu kemarin”
“bukankah seluruh seluk beluk keluargamu telah kau ceritakan?, mengapa hal sekecil ini, yang sangat berkaitan dengan pribadimu tidak kau tahu?”
Dia terdiam lama dan kembali menangis, menangis tanpa suara hanya air mata yang diusapnya.
“sudahlah, izinkan aku membahagiakanmu didetik-detik terakhir menjelang perkawinanmu”kataku pasrah
Dia mengangkat kepala, memandangku lalu kembali tertunduk, dia menangis kali ini dengan isakan. Aku mendengarnya.
“jangan menangis” kataku
“mau kan? Kau mengantarkanku besok?” tanyanya
“iya”
Keesokan hari aku mulai bangun. Walaupun air pagi hari enggan aku rasakan. Kupaksakan diriku untuk menyentuhnya. Ini adalah tugas terakhirku untuknya. Mengantarkannya ujian akhir. Sungguh berat terasa langkah kaki keluar dari pintu kamar kost. Kubunyikan motor dan beberapa menit kemudian motor pun melaju menuju kostnya. Aku menjemputnya untuk yang terakhir kalinya dan sore mengantarnya ke pantai untuk melihat matahari terakhir dalam kebersamaan dan mengantarnya lagi untuk yang terakhir kalinya balik ke kostnya.
Tugas terakhirku telah aku lakukan dan berakhir dengan kata semoga kau bahagia. Gadis tomboy, tetapi tetap menitipkan aura feminisnya pada sepasang mata yang memandangnya. Menyesal aku membalas smsmu waktu itu. Seandainya aku tidak membalasnya maka aku tidak seperti ini. Memandangi fotomu dan membayangkan wajah Fatimah, gadis gurun kekasih santiago dalam buku Paolo Coelho itu mirip denganmu.
Hari ini adalah hari perkawinanmu. Kau telah mengundangku. Namun aku malas untuk bangun dari tidurku, hingga penjual nasi kuning yang mengusik tidurku itu telah mengantarkan aku pada keikhlasan untuk melupakan kenangan.
Sebelum aku mengakhiri. Izinkan aku membakar kenangan bersama fotomu...
Senin, 29 Juni 2009
Menampar Bulan
Dia tak hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Namanya Qadriyah. Dan teman-temannya memanggil Ria. Gadis belia yang tak pernah bosan bersama malam walaupun hujan turun dengan derasnya, dia memang sudah setia pada dingin malam. Sebagaimana setianya pada Yus, kekasihnya yang telah meninggalkannya sekian lama. Entah berapa lama dia menghitung perpisahan yang seakan berlanjut untuk selamanya.
“Dinda besok aku mau merantau ke negeri tetangga” Kata Yus padanya, sambil membelai rambutnya yang lurus.
“Berapa lama kau akan menanam benih rindu pada diriku?” Tanyanya dengan nada gelisah.
“Entah berapa lama dinda. Tapi bila suatu hari nanti engkau rindu padaku. Maka tataplah rembulan, maka kau akan melihatku terbayang-bayang. Dan bila kau ingin mengetahui keadaanku ditanah orang lain. Maka bertanyalah pada rembulan” kata Yus meyakinkan kesetiaannya pada Ria.
Itulah sebabnya Ria bersahabat dengan malam. Saat siang datang, Ria begitu gelisah. Bila sore menjelang, bibir manisnya terkulum untuk matahari senja. Dan bila malam datang dia setia menunggu hingga fajar menjelang kembali bersama gelisahnya yang bangkit kembali.
Namun, kesetiannya pada malam sebagaimana setianya pada Yus tidak menghasilkan apa-apa. Dia tak hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Menyaksikan bulan dengan penuh pengaharapan. Beberapa kali dia lontarkan pertanyaan tentang kabar kekasihnya pada rembulan. Namun, rembulan tidak pernah merespon apapun. Bahkan saat pertanyaan dia lontarkan, rembulan bersembunyi dibalik awan seakan-akan pertanyaan itulah yang paling ditakutinya.
Dia tak hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Malam itu Ria tetap bersama malam dan bersahabat dengan dingin. Dia terus memandang rembulan tanpa ada rasa putus asa yang bersemayam dalam dirinya. Mata nanarnya yang berkaca-kaca dan hampir pecah tidak pernah dia pedulikan. Dia tetap menatap rembulan bahkan hingga kapanpun dia sanggup, bila wajah kekasihnya belum tampak. Malam semakin larut dia masih setia bersama malam, sebagaimana setianya pada Yus. Fajar kembali datang bersama gelisahnya, Ria pun tertunduk menuai kecewa pada rembulan.
Siang, Ria menyulam nama kekasihnya pada tiap kain yang ada, dan mengukir namanya pada setiap dinding kamarnya. Dan penuh pengharapan kekasihnya datang dan membaca namanya disetiap tempat. Ria tidak pernah berhenti berharap, rindunya telah mendarah daging.
Malam kembali datang, Ria tak henti-hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Berkali-kali dia bertanya pada rembulan tentang kabar kekasihnya, tapi tak kunjung ada berita baik ataupun buruk yang di ucapkan oleh rembulan padanya. Pertanyaan tak hentinya di lontarkan hingga bibirnya kaku, tapi bulan malah bersembunyi di balik awan karena tak sanggup melihat raut wajah sedih dan penuh kekecewaan gadis belia. Saat rembulan kembali muncul, Ria pun kembali bertanya tapi rembulan malah kembali bersembunyi dibalik awan. Hingga fajar kembali bersama gelisahnya, Ria belum mandapat kabar tentang kekasihnya secuil pun.
Siang, Ria kembali menyulam dan mengukir nama kekasihnya disetiap dinding kamarnya.
Ria masih setia, hingga malam kembali. Namun, malam ini masih seperti dengan malam yang kemarin. Hingga fajar rembulan belum juga muncul. Dan bila siang datang, Ria kembali menyulam dan mengukir nama kekasihnya.
Siang dengan sulamannya, sore dengan kuluman senyumnya, malam dengan setianya, dan fajar dengan gelisahnya. Ria telah lalui tanpa putus asa. Dia masih yakin dapat menatap wajah kekasihnya pada Rembulan dan menanyakan kabar kekasihnya juga pada rembulan.
Kali ini Ria kembali berharap melihat dan mendapatkan kabar tentang kekasihnya dari rembulan. Karena malam ini adalah malam ulang tahun kekasihnya. Dia ingin memberikan kado sulaman buat kekasihnya. Rembulan masih tetap seperti pada malam-malam yang lalu. Tanpa wajah kekasih, tanpa kabar dan tetap bersembunyi dibalik awan.
Sudah empat puluh satu purnama Ria menunggu wajah kekasihnya pada rembulan beserta kabar tentang kekasihnya yang juga dari rembulan. Namun, tidak ada yang berhasil dan dia masih setia serta yakin rembulan akan mengirim wajah dan kabar kekasihnya.
Dalam kerinduan, Ria mengalami gangguan jiwa. Tapi dia tetap setia pada malam dan bersahabat pada dingin.
Di malam selanjutnya Ria menunggu rembulan dalam keadaan sakit, di bangku bawah pohon tempatnya sering menunggu wajah dan kabar kekasihnya. Dia begitu lelah dan tertidur, dan tidak setia lagi pada malam hingga fajar datang.
Ria mengumpulkan bambu dari desa yang terdekat dari kampungnya. Pohon-pohon bambu dia telah tebang hingga tidak ada sebatang pohon bambu dia sisakan untuk penduduk setempat. Dan penduduk Cuma diam seakan telah mengerti apa yang dirasakan oleh Ria.
Dia merangkai semua bambu yang telah dia tebang selama berminggu-minggu, dan menjadikan tangga yang menjulang tinggi ke langit. Semuanya dia lakukan dengan sendirinya tanpa ada letih, yang ada Cuma kekesalan bukan rindu.
Tangga yang dia buat telah selesai, dia melewati anak-anak tangga yang lambat laun semakin tinggi. Dia tidak peduli lagi seberapa tinggi dia meningglakan bumi. Dia Cuma memikirkan, bagaimana caranya dia melewati ribuan anak tangga dan sampai di hadapan rembulan sebelum fajar tiba.
Malam ini memang purnama terang benderang, namun Ria masih jauh dari rembulan. Dia mempercepat gerakannya menaiki ribuan anak tangga. Beban tubuhnya sudah berkurang, gravitasi bumi sudah tidak menjangkaunya lagi. Dia semakin bersemangat.
Bulan sudah dekat darinya, sinaran purnama sungguh terang dan menyilaukan mata Ria. Dia pun Istrahat sejenak, hingga lelahnya agak sedikit berkurang. Raut wajahnya berubah geram. Dilihatnya wajah kekasihnya dibumi berduaan dengan seorang wanita lain.
Ria kembali menaiki anak-anak tangga yang tersisa, hingga bulan pas di depan matanya. Dia tak mau lagi menegok ke belakang. Ria menghakimi Rembulan yang tidak mau jujur mengatakan hal yang sebenarnya.
Marahnya memuncak, rembulan Cuma diam. Amarahnya tak terbendung, dengan kekesalan pada rembulan. Ria menampar rembulan hingga rasa sakit yang tak terkira. Rembulan menangis dengan keras hingga menjadi bunyi guntur dan hujan pun turun dengan deras.
Ria yang tertidur pulas dari tadi di bawah pohon, dibangunkan oleh guntur dan hujan yang deras. Dan menghamburkan semua mimpi-mimpinya.
Sabtu, 29 November 2008
WANITA YANG MENEMANIKU HINGGA SEPERTIGA MALAM
Aku mencoba membayangkan wajah Cleopatra. Apakah dia cantik seperti kau? Ataukah dia manis dengan memakai kacamata seperti kau pula? Aku tidak tahu, itu mugkin saja karena kata orang kebanyakan dia sungguh memukau pada zamannya. Kalau begitu aku akan belajar kata-kata yang romantic untuk menggombalmu. Sayang, kau tidak suka gombal. Aku baru ingat. Tapi satu lagi kau suka kejutan.
Kebimbangan dan keresahan semakin bergelayut. Akhirnya aku coba untuk menelpon nomor HPnya. Walaupun aga gugup, aku akan memastikannya dia tidak kenapa-kenapa. Sudah dua bulan dia tidak hadir dalam malamku. Biasanya dia setia menemaniku hingga sepertiga malam. Mungkin saja Tuhan marah padaku dan menarik utusannya untukku.
PAGI DIJENDELA KAYU
Walaupun banyak orang yang tidak percaya. Namun, suasana dirumah itu tetap ramai. Dari halaman terlihat banyak anak-anak yang bermain riang, keluarga dari rumah itu pun mulai berdatangan. Begitupula dengan tamu-tamu yang bersimpati atau yang sekedar ingin mengetahui.
Memang terbuat dari kayu, tapi inilah rumah yang paling bagus pada waktu itu. Kayu yang menjadi bahannya pun diambil dari hutan yang paling dalam. Bila kita masuk kehutan itu, kita akan tersesat dan tidak akan pernah pulang karena tidak tahu arah pulang, atau di makan oleh hantu-hantu yang ada di hutan itu. Kayu hitam, begitu kata penduduk menyebutnya. Dari depan bila kita melihat atap rumahnya. Memang tidak ada yang kelihatan mencolok, dari rumah yang ada disamping kanan dan kirinya. Bahannya pun tidak jauh beda, Cuma rumah ini terbuat dari kayu hitam, yang lain terbuat dengan kayu jati. Sama-sama kayu. Atapnya yang tersusun tiga, itulah yang nampak. Bila orang-orang desa ingin mengucapkan namanya, harus disertai dengan penghormatan dan penghayatan yang dalam. Andi Lanto Karaeng Gassing, tapi penduduk menyebutnya Puang Gassing.
“tidak! Kau mau masuk kamar” Puang Gassing, kembali dengan nada tinggi.
Pagi, Puang Marani kembali ke jendela kayu untuk melemparkan senyum kepada semua pemuda desa, dan kepada Ardan hari ini adalah hari yang sangat istimewa. Dia bukan hanya mendapat senyuman, tapi dia mendapat surat dari singkat dari Puang Marani. Secarik kertas yang telah ditulisi. Kertas tadi membungkus asbak rokok. Mungkin, agar kertas yang dilempar tidak melayang saja ke udara. Setelah membaca Ardan mengangguk pasti, seakan ada satu hal yang mesti dia penuhi. Minta dilamar atau apa pun itu. Cuma mereka yang tahu, termasuk Tuhan.
Kamis, 29 Mei 2008
INDO’
Janda 65 tahun itu bernama Indo’, seharian dia berjualan dipasar hanya untuk memberi makan anak-anaknya yang terkadang pulang dan langsung menuju meja makan, mencari makanan bila tidak ada makanan yang sesuai selera mereka langsung memarahinya bahkan tidak sedikit anak-anaknya menendangi ataupun menamparnya.
Belum lagi ketika anaknya datang dengan keadaan mabuk ataupun kalah judi, pernah suatu hari indo’ ditendang keluar rumah oleh Cimmenk, waktu itu Cimmenk habis kalah judi dan pulang dengan keadaan mabuk dan lansung menuju meja makan namun tak satu pun makanan yang diliatnya di meja, amarahnya pun memuncak, emosi tak terbendung, dengan mata merah tanpa terima alasan bahwa dagangan indo’ tidak laku-laku hari ini, ditariknya indo’ kedepan pintu, dan langsung melayangkan tendangannya hingga indo’ tersungkur dihalaman.
Belum lagi si Ambreng yang menempeleng indo’ yang waktu itu ingin keluar rumah dan meminta uang pangganti uang makan yang tidak tersedia di meja. Indo’ Cuma sabar menghadapi semua itu, bagi indo’, anaknya adalah anaknya, apapun perbuatan anaknya itu bagian dari perbuatan juga, kenakalan anaknya juga tidak terlepas dari tingkah prilaku bapaknya waktu muda, yang juga sebagai kepala preman kota namun pada waktu lahir anak keduanya bapaknya berubah drastis, waktu itu terjadi perkelahian sesama anggota preman hingga banyak teman-temannya yang terbunuh dan beberapa lainnya tertangkap oleh aparat, kecuali bapaknya dan si Joni waktu itu yang lolos melarikan diri.
Bila aku menagisi tingkahnya, air mataku akan habis dan tidak akan merubah tingkahnya, bila aku menyesalkan tingkahnya maka sama saja aku menyesalkan kelahirannya yang juga dari rahimku sendiri, saya biarkan saja mereka berbuat agar dia menemukan air matanya dan penyesalannya sendiri, itu yang sering dikatakan oleh indo’ saat ditanyai bagaimana perasaannya terhadap anak-anaknya.
Lain halnya dengan imnyung, dia sangat hormat terhadap Indo’ ketika Cimmeng ataupun Ambreng datang dengan menyisakan kemarahan dari tempat pergumulan pencarian jati dirinya hanya Imnyung yang membela Indo’, walaupun dia preman tapi sifatnya yang pemurah, membuatnya dikenal disepanjang lorong rumahnya. Pernah suatu hari untuk yang kesekian kalinya Cimmeng dan Ambreng mencaci maki ibunya, Imnyung datang membela indo’, bahkan rela mencabut badik mereka masing-masing hingga indo’ berteriak histeris dan jatuh pinsang.
Ada juga suatu hari Ambreng ditangkap aparat karena baru saja terlibat tawuran antar preman, Cimmeng sudah 2 minggu tidak pulang-pulang, indo’ pun sakit parah dan tidak berangkat untuk berdagang di pasar, hanya Imnyung yang merawat Indo’ mencarikan makanan dari rumah-rumah tetangganya yang ada di lorong, menjual gelang berdurinya yang sering dia pakai saat nongkrong bersama teman-temannya diujung lorong walaupun dengan harga yang tak seberapa, hanya untuk membeli 3 butir obat yang diminum sehari oleh indo’.
Akhir-akhir ini cimmeng dan ambreng sering pulang dengan menyisakan kemarahan dari pergumulan dalam mencari jati diri, tak sedikit indo’ mendapat jatah harian berupa caci maki, tamparan, bahkan tendangan, Imnyung pun tak sedikit kali mengeluarkan badiknya untuk menantang Cimmeng dan Ambreng bila melihat indo’ mendapat perlakuan yang tak semestinya.
Air mata tak akan dikeluarkan oleh indo’ penyesalan enggan dirasakan olehnya, yang terpikir dalam benaknya bila masalah datang maka mesti ada yang jadi menjadi korban untuk menyelesaikan masalah itu.
Malam itu tak ada yang tahu apa yang dipikirkan indo’, entahlah apakah dia memikirkan perlakuan anaknya tadi siang yang hampir saling menikam ataukah memikirkan umurnya yang sudah tua dengan anak yang semakin jauh mencari jati dirinya.
Dibawah lampu temaram indo’ Cuma memandangi secarik kertas yang bergambar hitam putih. Mungkin saja itu foto suaminya, entahlah…
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 indo’ masih duduk entah apakah yang dipikirkan perlakuan anaknya tadi siang yang hampir saling menikam ataukah memikirkan umurnya yang sudah tua dengan anak yang semakin jauh mencari jati dirinya. Pukul 03.00 dini hari tidak ada yang tahu indo’ melakukan apa, ke tiga anaknya telah tertidur pulas diruangan tidurnya masing-masing. Dini hari hening tak ada yang bersuara binatang pun seakan membisu angin hanya berhembus sesekali dan menusuk tulang sum-sum
Cimmeng terbangun lebih dulu dan berteriak membangunkan saudaranya.
Bangun… bangun… hari ini kita makan enak, indo’ memasakkan kita daging. Teriak cimmeng seakan-akan seluruh penghuni desa mendengarkannya.
Ah…. Berisik, sana pergi jangan bohong, kata Ambreng yang masih melipat dirinya karena ngantuk.
Imnyung yang mendengar teriakan Cimmeng tidak percaya karena setahunya Indo’ tidak memiliki uang untuk makan se-enak itu, dengan ketidak percayaannya dia membuka penutup meja untuk melihat apa yang dikatakan oleh Cimmeng.
Betul kan kataku… kata cimmeng yang melihat imnyung membuka penutup makanan.
Tapi imnyung merasakan ada yang tidak beres. Dia tetap saja terdiam tidak menyahut perkataan kakaknya.
Ambreng pun terbangun karena penasaran, diliatnya makanan yang ada di meja langsung saja dia berteriak serbuu……
Tunggu dulu… Indo’ mana? cegah Imnyung.
Alla’ paling-paling dia sudah ke pasar, kalau tidak mau makan pergi saja sana ke pasar, temui indo’ kau itu, sahut Cimmeng.
Dengan kesal, tanpa suara Imnyung meninggalkan mereka menuju pasar, tapi apa yang dilihatnya bukan yang diharpakan, warung tempat dagangan indo’ tidak terbuka. Pertanyaan semakin bermunculan, kemana indo’? dimana Indo’ mengambil uang dengan makanan yang semewah itu? Pinjam dimana lagi? Pertanyaan itu dibungkus dikepalanya dan dibawahnya pulang ke rumah.
Kedua saudaranya sudah kenyang dan merokok dengan santai, kenapa, sudah ketemu indo’mu? Tanya Cimmeng.
Tanpa menjawab Imnyung lansung mendobrak pintu kamar Indo’, dan langsung memekik bercampur tangis memanggil namanya ibunya.
Kedua saudaranya terkejut dan berlari menghampiri Imnyung, ketiganya menyaksikan tubuh indo’ yang tidak kenal tetes air mata dan penyesalan tapi sangat menghargai pengorbanan untuk menyelesaikan masalah itu dengan kaki puntung.
Ternyata sejak dini hari indo’ sengaja mengorbankan kaki sebelah kanannya dengan memotongnya lalu memasaknya untuk anak-anaknya, diberinya bumbu yang sedap sehingga rasa daging manusia yang amis tidak kentara, setelah menyiapkan diatas meja, dengan merayap indo mengambil kain-kain bekas baju suaminya dan melap semua darah yang bercecer kemudian kembali membaringkan dirinya untuk selamanya. indo’ meninggal karena kehabisan cairan darah dalam tubuhnya.
Ketiganya pun meneteskan air mata, maka iktiar indo’ pun tercapai, “Bila aku menagisi tingkahnya, air mataku akan habis dan tidak akan merubah tingkahnya, bila aku menyesalkan tingkahnya maka sama saja aku menyesalkan kelahirannya yang juga dari rahimku sendiri, saya biarkan saja mereka berbuat agar dia menemukan air matanya dan penyesalannya sendiri”
Air mata dan penyesalan dia telah mereka temukan sendiri. Kini pimpinan preman telah hilang saat menelan surga yang ada ditelapak kaki ibunya.
Dipublikasikan Oleh Fajar 22 Juli 2008
Minggu, 04 Mei 2008
PUISI
Supratman Yusbi Yusuf
Cuma 3x3
sederhana
tidak luas, tidak sempit
Cuma kelapangan hati
Cuma kesunyian
remang-remang
tidak sepi, tidak ramai
Cuma ketenangan jiwa
ah…..
dalam kamar ini
kuadukan nasib
tanpa dikau
dalam kamar ini
kupadukan cinta dan amanah
untuk dikau
agar kau tahu aku bukanlah
seorang pengejut, pengkhianat
bahkan benalu terhadapmu
agar kau aku adalah
seorang yang kau inginkan
sebagai pewujud segala mimpi-mimpimu
dengan cinta dan amanah
akan kubuktikan padamu
ihktiar hidup akan sebuah keberhasilan
ihktiar hidup akan sebuah mimpi-mimpi indah
UNTUK AKU, KAU, DIA DAN DIA
Supratman Yusbi Yusuf
Telah kutitip keresahan ini untuk dikau
Tapi bukan karena pesimis
Karena aku menitipnya bukan tanpa sebab
Tapi untuk kau resahkan juga
Telah kubagi rindu ini
Untuk dia dan dia
Agar dia dan dia merasakan rinduku
Dan membaginya untuk mereka
Karena keresahannku adalah keresahan akan kedamaian
Karena keriduanku adalah kerinduan akan kedamaian
Untuk aku,kau,dia dan dia.

