SELAMAT DATANG

INI RUANG UNTUK KALIAN
DENGAN DALIH KEBERSAMAAN MARILAH KITA
RANGKAI PERTEMUAN INI DENGAN KARYA,
HINGGA RINDU TAK PERNAH BERLABUH DARI KERINDUANNYA.
KERINDUAN ITU TERKADANG DARIKU, KAU, DIA DAN DIA

Kebersamaan

Kebersamaan
Di Desa

Lencana Facebook

Profil Facebook Supratman Yusbi

Senin, 2009 Juni 29

Menampar Bulan

Supratman Yusbi Yusuf



Dia tak hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Namanya Qadriyah. Dan teman-temannya memanggil Ria. Gadis belia yang tak pernah bosan bersama malam walaupun hujan turun dengan derasnya, dia memang sudah setia pada dingin malam. Sebagaimana setianya pada Yus, kekasihnya yang telah meninggalkannya sekian lama. Entah berapa lama dia menghitung perpisahan yang seakan berlanjut untuk selamanya.
“Dinda besok aku mau merantau ke negeri tetangga” Kata Yus padanya, sambil membelai rambutnya yang lurus.
“Berapa lama kau akan menanam benih rindu pada diriku?” Tanyanya dengan nada gelisah.
“Entah berapa lama dinda. Tapi bila suatu hari nanti engkau rindu padaku. Maka tataplah rembulan, maka kau akan melihatku terbayang-bayang. Dan bila kau ingin mengetahui keadaanku ditanah orang lain. Maka bertanyalah pada rembulan” kata Yus meyakinkan kesetiaannya pada Ria.
Itulah sebabnya Ria bersahabat dengan malam. Saat siang datang, Ria begitu gelisah. Bila sore menjelang, bibir manisnya terkulum untuk matahari senja. Dan bila malam datang dia setia menunggu hingga fajar menjelang kembali bersama gelisahnya yang bangkit kembali.
Namun, kesetiannya pada malam sebagaimana setianya pada Yus tidak menghasilkan apa-apa. Dia tak hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Menyaksikan bulan dengan penuh pengaharapan. Beberapa kali dia lontarkan pertanyaan tentang kabar kekasihnya pada rembulan. Namun, rembulan tidak pernah merespon apapun. Bahkan saat pertanyaan dia lontarkan, rembulan bersembunyi dibalik awan seakan-akan pertanyaan itulah yang paling ditakutinya.
Dia tak hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Malam itu Ria tetap bersama malam dan bersahabat dengan dingin. Dia terus memandang rembulan tanpa ada rasa putus asa yang bersemayam dalam dirinya. Mata nanarnya yang berkaca-kaca dan hampir pecah tidak pernah dia pedulikan. Dia tetap menatap rembulan bahkan hingga kapanpun dia sanggup, bila wajah kekasihnya belum tampak. Malam semakin larut dia masih setia bersama malam, sebagaimana setianya pada Yus. Fajar kembali datang bersama gelisahnya, Ria pun tertunduk menuai kecewa pada rembulan.
Siang, Ria menyulam nama kekasihnya pada tiap kain yang ada, dan mengukir namanya pada setiap dinding kamarnya. Dan penuh pengharapan kekasihnya datang dan membaca namanya disetiap tempat. Ria tidak pernah berhenti berharap, rindunya telah mendarah daging.
Malam kembali datang, Ria tak henti-hentinya menengok ke langit, sesekali dia tunduk dan menuai kecewa. Berkali-kali dia bertanya pada rembulan tentang kabar kekasihnya, tapi tak kunjung ada berita baik ataupun buruk yang di ucapkan oleh rembulan padanya. Pertanyaan tak hentinya di lontarkan hingga bibirnya kaku, tapi bulan malah bersembunyi di balik awan karena tak sanggup melihat raut wajah sedih dan penuh kekecewaan gadis belia. Saat rembulan kembali muncul, Ria pun kembali bertanya tapi rembulan malah kembali bersembunyi dibalik awan. Hingga fajar kembali bersama gelisahnya, Ria belum mandapat kabar tentang kekasihnya secuil pun.
Siang, Ria kembali menyulam dan mengukir nama kekasihnya disetiap dinding kamarnya.
Ria masih setia, hingga malam kembali. Namun, malam ini masih seperti dengan malam yang kemarin. Hingga fajar rembulan belum juga muncul. Dan bila siang datang, Ria kembali menyulam dan mengukir nama kekasihnya.
Siang dengan sulamannya, sore dengan kuluman senyumnya, malam dengan setianya, dan fajar dengan gelisahnya. Ria telah lalui tanpa putus asa. Dia masih yakin dapat menatap wajah kekasihnya pada Rembulan dan menanyakan kabar kekasihnya juga pada rembulan.
Kali ini Ria kembali berharap melihat dan mendapatkan kabar tentang kekasihnya dari rembulan. Karena malam ini adalah malam ulang tahun kekasihnya. Dia ingin memberikan kado sulaman buat kekasihnya. Rembulan masih tetap seperti pada malam-malam yang lalu. Tanpa wajah kekasih, tanpa kabar dan tetap bersembunyi dibalik awan.
Sudah empat puluh satu purnama Ria menunggu wajah kekasihnya pada rembulan beserta kabar tentang kekasihnya yang juga dari rembulan. Namun, tidak ada yang berhasil dan dia masih setia serta yakin rembulan akan mengirim wajah dan kabar kekasihnya.
Dalam kerinduan, Ria mengalami gangguan jiwa. Tapi dia tetap setia pada malam dan bersahabat pada dingin.
Di malam selanjutnya Ria menunggu rembulan dalam keadaan sakit, di bangku bawah pohon tempatnya sering menunggu wajah dan kabar kekasihnya. Dia begitu lelah dan tertidur, dan tidak setia lagi pada malam hingga fajar datang.
Ria mengumpulkan bambu dari desa yang terdekat dari kampungnya. Pohon-pohon bambu dia telah tebang hingga tidak ada sebatang pohon bambu dia sisakan untuk penduduk setempat. Dan penduduk Cuma diam seakan telah mengerti apa yang dirasakan oleh Ria.
Dia merangkai semua bambu yang telah dia tebang selama berminggu-minggu, dan menjadikan tangga yang menjulang tinggi ke langit. Semuanya dia lakukan dengan sendirinya tanpa ada letih, yang ada Cuma kekesalan bukan rindu.
Tangga yang dia buat telah selesai, dia melewati anak-anak tangga yang lambat laun semakin tinggi. Dia tidak peduli lagi seberapa tinggi dia meningglakan bumi. Dia Cuma memikirkan, bagaimana caranya dia melewati ribuan anak tangga dan sampai di hadapan rembulan sebelum fajar tiba.
Malam ini memang purnama terang benderang, namun Ria masih jauh dari rembulan. Dia mempercepat gerakannya menaiki ribuan anak tangga. Beban tubuhnya sudah berkurang, gravitasi bumi sudah tidak menjangkaunya lagi. Dia semakin bersemangat.
Bulan sudah dekat darinya, sinaran purnama sungguh terang dan menyilaukan mata Ria. Dia pun Istrahat sejenak, hingga lelahnya agak sedikit berkurang. Raut wajahnya berubah geram. Dilihatnya wajah kekasihnya dibumi berduaan dengan seorang wanita lain.
Ria kembali menaiki anak-anak tangga yang tersisa, hingga bulan pas di depan matanya. Dia tak mau lagi menegok ke belakang. Ria menghakimi Rembulan yang tidak mau jujur mengatakan hal yang sebenarnya.
Marahnya memuncak, rembulan Cuma diam. Amarahnya tak terbendung, dengan kekesalan pada rembulan. Ria menampar rembulan hingga rasa sakit yang tak terkira. Rembulan menangis dengan keras hingga menjadi bunyi guntur dan hujan pun turun dengan deras.
Ria yang tertidur pulas dari tadi di bawah pohon, dibangunkan oleh guntur dan hujan yang deras. Dan menghamburkan semua mimpi-mimpinya.

Sabtu, 2008 November 29

WANITA YANG MENEMANIKU HINGGA SEPERTIGA MALAM

Aku mencoba membayangkan wajah Cleopatra. Apakah dia cantik seperti kau? Ataukah dia manis dengan memakai kacamata seperti kau pula? Aku tidak tahu, itu mugkin saja karena kata orang kebanyakan dia sungguh memukau pada zamannya. Kalau begitu aku akan belajar kata-kata yang romantic untuk menggombalmu. Sayang, kau tidak suka gombal. Aku baru ingat. Tapi satu lagi kau suka kejutan.

Sepertinya dia begitu istimewa, tapi sulit untuk ditebak. Tiap ketemu dia melempar senyum, dan aku pun membalas. Aku bicara dia malah cemberut, katanya gombal. Betulkah? Aku tidak mengerti maunya. Aneh.

“Ini cerpen untukmu dinda” kataku.

“wow, buat aku?” katanya

“iya” jawabku

“I Like it” katanya sembari melempar senyum dan berlalu.

“ei… mau kemana? SMS aku sebentar malam ya” teriakku

“kau saja yang SMS. Aku akan balas” Jawabnya.

Menurutku dia manis dan baik hati. Feminim kata orang kebanyakan. Dia memakai kaca mata, sepertinya itu aksesoris yang cukup menambah penampilannya yang semakin sempurna saja sebagai wanita dalam setiap harinya. Dia cukup cerdas, tidak banyak pilih-pilah teman. Kayaknya semakin sempurna saja dia. Aku tidak mengigau. Namanya Marita.

“dikampus kok kau langsung pergi? Kemana?” SMS ku melayang ke hpnya. Mudah-mudahan saja dia membalas dengan cepat agar tidak menitipkan resah padaku.

Sudah tiga puluh menit aku menunggu balasan SMS nya. Tapi tidak datang juga. Aku mulai resah. Ku ambil secarik kertas dan menulis puisi untuk dia. Sebagai kejutan besok karena dia suka kejutan. Agar dia terpikat olehku lalu dia mau mendengarkanku termasuk gombalanku. Mudah-mudahan.

“maaf baru balas, tadi dosenku masuk” SMS balasannya pun tiba. Resahku hilang, imajinasi yang akan aku tuliskan pada puisi pun turut hilang.

SMSan pun berlanjut hingga sepertiga malam. Berbagai tema, saling berkaitan tanpa kesimpulan. SMS dia tutup “Jangan lupa shalat malam sebelum tidur”. Ternyata dia wanita alim. Baru aku tahu.

Pagi, dikampus aku menemuinya. Dia Cuma melempar senyuman, tanpa kata hanya senyuman. Aku makin penasaran tapi tidak enak bila memburunya. Banyak orang waktu itu, apa lagi aku bersama teman-teman. Hingga senja tiba, dia belum muncul juga, kecuali pagi tadi dan Cuma melempar senyum. Mungkin saja dia sudah pulang dari tadi, tanpa memberi tahuku. Buat apa juga dia memberi tahuku? Aku bukan siapa-siapa buat dia.

Malam tiba kami kembali SMSan. Dia setia menemaniku hingga sepertiga malam. Dan selalu dia tutup SMSnya dengan kalimat “jangan lupa shalat malam sebelum tidur”. Aku rajin mengikutinya ketimbang perintah ibuku yang memintaku shalat waktu kecil. Mungkinkah dia punya charisma yang tinggi di banding ibuku. Ataukah saya telah terpikat.

Sudah beberapa malam dia SMSan denganku, aku tidak mampu untuk menghitungnya. Pokoknya kurang lebih tujuh bulan dia menemaniku hingga sepertiga malam. Saya rasa dia cukup setia akan hal ini. Apakah dia sengaja diutus oleh Tuhan untuk mengingatkanku? Tapi kenapa Cuma shalat malam, bukan shalat lima waktu. Ataukah kenapa tidak menyuruhku untuk puasa senin kamis sekalian. Entahlah.

Bila dikampus. Seperti biasa dia Cuma melempar senyum tanpa ada suara, Cuma sesekali kami bercakap. Bercakap apa saja. Tapi bukan gombal, karena dia tidak suka gombal.

Malam ini dia tidak menemaniku hingga sepertiga malam lagi. Aku tidak tahu dia kemana? Di kampus juga aku tidak menemuinya bersama teman-temannya. Dia sakit? Aku tidak tahu di mana rumahnya, yang kutahu hanyalah dia bersuku mandar.

Besoknya aku mencarinya dikampus. Dia tidak aku temui, tapi aku malu bertanya pada temannya takut buat gossip. Aku Cuma mencarinya dengan mata. Beribu Tanya aku pendam. Wanita yang menemaniku hingga sepertiga malam telah hilang.

Sebulan telah berlalu, dia belum juga nampak. Aku tetap malu bertanya.

Malam, aku Cuma berteman dengan kertas dan ballpoint. Sudah cukup tujuh judul cerpen yang telah aku tulis untuknya. Dan lima puluh judul puisi untuknya. Dengan harapan ketika dia muncul aku langsung memberikannya sebagai kejutan. Lalu dia akan tersenyum untukku dan setia lagi untuk menemaniku hingga di sepotong malam. Lalu aku mulai berbicara kepadanya panjang lebar, tapi bukan gombal karena dia tidak suka gombal.

Dia tidak muncul lagi, sudah hampir dua bulan. Aku makin resah, kemana wanita yang sering menemaniku hingga sepertiga malam itu? Mengapa tiba-tiba dia menghilang seperti di telan waktu. Apakah dia sakit? Bila sakit, aku mau menjenguknya kemana? Bila dia meninggal? Moga saja Tuhan mengampuni dosanya. Tapi, aku yakin dia akan masuk surga karena dia dikirim untuk mengingatkan aku untuk shalat di sepertiga malam. Kemana dia?

“Lebih baik cerpen dan puisi yang aku tulis ini dibukukan saja, biar dia lebih terkejut dengan kejutan ini” kataku dalam hati.

Kebimbangan dan keresahan semakin bergelayut. Akhirnya aku coba untuk menelpon nomor HPnya. Walaupun aga gugup, aku akan memastikannya dia tidak kenapa-kenapa. Sudah dua bulan dia tidak hadir dalam malamku. Biasanya dia setia menemaniku hingga sepertiga malam. Mungkin saja Tuhan marah padaku dan menarik utusannya untukku.

“Hallo” terdengar suara laki-laki dari sana

“ada marita?” tanyaku

“oh iya, dia lagi diluar. Ini dengan siapa?” Tanyanya

“aku temannya. Kalau yang di seberang?” tanyaku agak kikuk

“aku suaminya, dua minggu lalu kami telah menikah” Jawabnya.

“oh… yah sudahlah. Aku menggangu mungkin. Titip salam saja sama dia. Bilang dari Ichal, teman kampusnya” Jawabku.

“tut…tut…” telpon terputus.

Rasanya tidak mampu aku terima, wanita yang menemaniku hingga sepertiga malam kini telah menemani lelaki hingga di ujung malam. Mengapa aku menelponnya.

HPku kembali berdering. Aku perhatikan nomor interlokal yang masuk. Rasanya ini kode Jakarta.

“ini dengan bapak Sukrizal?” tanyanya

“iya betul, ada apa?” tanyaku

“kami dari pihak penerbitan, naskah cerpen dan puisi bapak layak terbit. Minggu ini kami akan mulai proses editing. Penerbitan kami akan menerbitkannya” jawabnya.

“oh… iya pak. Terima kasih” Kataku dengan gembira.

Kini aku melupakan wanita yang sering menemaniku hingga di sepertiga malam. Walaupun tekadang terbersik dalam khayalanku akan bentuk senyuman yang sempurna. Untuk sementara Cuma senyumannya.

Minggu, 2008 Mei 04

PUISI

Cinta dan Amanah

Supratman Yusbi Yusuf

Cuma 3x3

sederhana

tidak luas, tidak sempit

Cuma kelapangan hati

Cuma kesunyian

remang-remang

tidak sepi, tidak ramai

Cuma ketenangan jiwa

ah…..

dalam kamar ini

kuadukan nasib

tanpa dikau

dalam kamar ini

kupadukan cinta dan amanah

untuk dikau

agar kau tahu aku bukanlah

seorang pengejut, pengkhianat

bahkan benalu terhadapmu

agar kau aku adalah

seorang yang kau inginkan

sebagai pewujud segala mimpi-mimpimu

dengan cinta dan amanah

akan kubuktikan padamu

ihktiar hidup akan sebuah keberhasilan

ihktiar hidup akan sebuah mimpi-mimpi indah


UNTUK AKU, KAU, DIA DAN DIA

Supratman Yusbi Yusuf


Telah kutitip keresahan ini untuk dikau

Tapi bukan karena pesimis

Karena aku menitipnya bukan tanpa sebab

Tapi untuk kau resahkan juga


Telah kubagi rindu ini

Untuk dia dan dia

Agar dia dan dia merasakan rinduku

Dan membaginya untuk mereka


Karena keresahannku adalah keresahan akan kedamaian

Karena keriduanku adalah kerinduan akan kedamaian

Untuk aku,kau,dia dan dia.