SELAMAT DATANG

INI RUANG UNTUK KALIAN
DENGAN DALIH KEBERSAMAAN MARILAH KITA
RANGKAI PERTEMUAN INI DENGAN KARYA,
HINGGA RINDU TAK PERNAH BERLABUH DARI KERINDUANNYA.
KERINDUAN ITU TERKADANG DARIKU, KAU, DIA DAN DIA

Kebersamaan

Kebersamaan
Di Desa

Sabtu, 29 November 2008

PAGI DIJENDELA KAYU

Walaupun banyak orang yang tidak percaya. Namun, suasana dirumah itu tetap ramai. Dari halaman terlihat banyak anak-anak yang bermain riang, keluarga dari rumah itu pun mulai berdatangan. Begitupula dengan tamu-tamu yang bersimpati atau yang sekedar ingin mengetahui.

Memang terbuat dari kayu, tapi inilah rumah yang paling bagus pada waktu itu. Kayu yang menjadi bahannya pun diambil dari hutan yang paling dalam. Bila kita masuk kehutan itu, kita akan tersesat dan tidak akan pernah pulang karena tidak tahu arah pulang, atau di makan oleh hantu-hantu yang ada di hutan itu. Kayu hitam, begitu kata penduduk menyebutnya. Dari depan bila kita melihat atap rumahnya. Memang tidak ada yang kelihatan mencolok, dari rumah yang ada disamping kanan dan kirinya. Bahannya pun tidak jauh beda, Cuma rumah ini terbuat dari kayu hitam, yang lain terbuat dengan kayu jati. Sama-sama kayu. Atapnya yang tersusun tiga, itulah yang nampak. Bila orang-orang desa ingin mengucapkan namanya, harus disertai dengan penghormatan dan penghayatan yang dalam. Andi Lanto Karaeng Gassing, tapi penduduk menyebutnya Puang Gassing.

Kata pemuda desa kebanyakan dia bagaikan bidadari. Matanya yang sungguh indah, bagaikan pinang dibelah dua. Bulu matanya yang lurus menambah keindahan bagi yang menatapnya. Kulitnya begitu putih dan mulus, mungkin saja kurang kena sinar matahari siang, seperti para gadis desa yang lain. Rambutnya panjang, hitam dan lurus, Cuma ujungnya yang agak sedikit bergelombang. Hidungnya cukup mancung. Entah, apa lagi yang bisa saya gambarkan dari gadis itu. Andi Kasmarani, penduduk menyebut namanya Puang Marani. Gadis desa yang tiap hari berdiri di jendela kayu melempar senyum untuk pemuda kampung yang lewat, dan untuk Ardan senyum istimewa selalu saja dia dapatkan dari Puang Marani hampir tiap hari. Mereka terpikat rasa. Tapi, Puang Marani dipingit oleh keluarganya yang padahal sebelumnya belum pernah datang lamaran dari siapapun, mungkin orang tuanya mengkhawatirkannya sedangkan Ardan, pemuda yang bebas tanpa sangkar.

Pagi di jendela kayu, Puang Marani tidak lagi berdiri di jendela itu untuk melempar senyuman kepada pemuda desa termasuk kepada Ardan. Para keluarga dan penduduk yang simpati atau sekedar ingin melihat datang silih berganti. Ramai, rumah yang luas tidak mampu menjawab rasa penasaran penduduk yang setiap detik bertambah, termasuk penduduk dari luar desa.

Kemarin malam, Puang Marani-gadis yang dipingit telah melahirkan seorang anak perempuan. Sepertinya dia mewarisi kecantikan ibunya, tapi pada ayahnya. Tidak, dia lahir tanpa ayah. Puang Marani belum pernah dinikahkan dengan laki-laki manapun. Dan keluarganya serta penduduk yakin Puang Marani belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun. Kerena mereka yakin Puang Marani dipingit dan tidak pernah keluar rumah. Dan mereka yakin ini bukan hal yang tiba-tiba saja terjadi tanpa sebab. Semua percaya Puang Marani melahirkan anak tuhan. Anak tuhan lahir di desa itu. Itulah yang membuat penduduk dari berbagai desa dipenuhi rasa penasaran hingga pemadati kediaman Puang Gassing. Ingin melihat Anak tuhan.

Anak tuhan.

Kurang lebih setahun yang lalu, saat Puang Marani masih dipingit, dan masih berdiri di jendela kayu rumahnya sambil melempar senyuman kepada setiap pemuda desa yang lewat. Entah yang ke sawah ataupun ke kebun, puang Marani tidak memikirkan hal itu yang jelas dia melempar senyum.

Sebenarnya Puang Marani tidak tahan di berlakukan seperti ini pada keluarganya, kadang dia memberontak dan hendak keluar rumah seperti gadis desa kebanyakan. Bebas tanpa ada beban, bergaul dengan pemuda desa dari pagi sampai sore hari, karena malam mereka tidak diperkenankan keluar lagi, walaupun dengan alasan shalat berjamaah dimasjid. Dan orang tua pun punya alasan yang kuat pula. Menjaga anak gadisnya dan mempertahankan kehormatan keluarga. Memang ukuran terhormatnya keluarga di desa itu bila kepala rumah tangganya mampu menjaga anak gadisnya dengan baik, bukan anak laki-lakinya. Itu salah satu alasan singkat.

“saya mau keluar sejenak puang” kata Puang Marani

“tidak boleh” sahut ayahnya, Puang Gassing.

“saya sudah lelah dirumah terus. Tanpa melihat matahari terbit, serta terbenamnya. Saat bulan purnama saya pun tidak melihat sinarannya” Puang Marani mengemis

“Tidak, pokoknya tidak. Kau mau seperti kakakmu?” Puang Gassing dengan nada tinggi.

Puang Marani Cuma bisa menangisi perlakuan ayahnya, yang sebenarnya trauma dengan apa yang menimpa kakaknya dua tahun yang lalu. Sebelum Puang Marani dipingit. Waktu itu dia masih hidup bahagia dengan kakaknya, ayah dan ibunya. Mereka masih bebas bergaul dengan penduduk, terutama juga pada pemuda desa. Mereka sering membuat acara-acara sederhana dengan gadis-gadis desa. Sekedar iseng-isengan membuat sup ubi, barobbo’, dan sejenisnya.

Bila Puang Marani dan kakaknya berjalan bersama, penduduk desa akan kesulitan untuk membedakan mana adik dan mana yang kakak. Keduanya sama-sama cantik dan menawan, bentuk senyumnya pun sama. Kembar kata orang kebanyakan.

Tapi hari naas itu datang dan mengubah semua situasi yang ada pada keluarga Puang Marani. Kakaknya tiba-tiba menghilang, tiada yang tahu kemana. Penduduk desa telah mencarinya hingga kepelosok desa. Namun, tanpa hasil. Terakhir menurut informasi warga, kakaknya jalan bersama dengan pemuda desa seberang. Namun, pemuda itu telah ke Malaysia kemarin malam, mungkinkah kakaknya ikut kesana? Entahlah…

Pencarian yang telah berlangsung dua hari tanpa hasil, dan penduduk kembali keaktivitas sehari-harinya. Tiba-tiba, tanpa disangka dan di duga ada kabar menggegerkan warga desa. Di sungai yang berair keruh. Tempat buaya besar bersarang, biasanya untuk menakut-nakuti anak kecil yang nakal tak tanggung-tanggung. Tanahnya berlumpur, banyak kepiting merah dan kecil terkadang membentuk lubang-lubang kecil pada lumpur itu. Mungkin saja mereka membangun istana kepiting bawah lumpur. Pinggirannya banyak ditumbuhi pohon nifa. Daunnya tidak terlalu lebat, Cuma seperti pohon kelapa yang pendek, tapi pohon ini banyak jadi daunnya juga ikut banyak dan menutupi permukaan sungai hingga tidak nampak bila ada sungai dibalik pohon itu. Kalaupun terjadi pasang airnya tidak akan melewati batas tumbuhnya pohon itu. Ditengah-tengah pohon inilah jasad kakak Puang Marani ditemukan tanpa sehelai pakaian yang melekat pada tubuhnya. Entah keperawanannya sudah terenggut atau belum, penduduk yakin dia bukan gadis lagi.

Sejak itulah Puang Marani mulai dilarang untuk keluar rumah, mungkin saja ayahnya sangat terpukul dan merasa malu atas kejadian itu karena tidak mampu untuk menjaga anak gadisnya.

“aku beda beda dengan kakak Puang” kata Puang Marani

“Dahulu kakakmu, juga bilang aku bisa jaga diri” Sahut Puang Gassing

“Puang, saya mau seperti yang lain, bergaul seperti dahulu” Puang Marani Merengek

“tidak! Kau mau masuk kamar” Puang Gassing, kembali dengan nada tinggi.

Puang Marani Cuma menangisi nasib yang menimpanya dalam kamar, yang baginya hanyalah sangkar indah.

Pagi, Puang Marani kembali ke jendela kayu untuk melemparkan senyum kepada semua pemuda desa, dan kepada Ardan hari ini adalah hari yang sangat istimewa. Dia bukan hanya mendapat senyuman, tapi dia mendapat surat dari singkat dari Puang Marani. Secarik kertas yang telah ditulisi. Kertas tadi membungkus asbak rokok. Mungkin, agar kertas yang dilempar tidak melayang saja ke udara. Setelah membaca Ardan mengangguk pasti, seakan ada satu hal yang mesti dia penuhi. Minta dilamar atau apa pun itu. Cuma mereka yang tahu, termasuk Tuhan.

Jam dua belas, Ardan memenuhi permintaan Puang Marani. Ardan memanjat rumah tanpa diliat warga dan menyelinap masuk ke kamar Puang Marani yang telah di jelaskan dalam pesan singkat. Puang Marani menerimanya dengan senyum. Mereka pun memuaskan hasrat hingga fajar menjelang. Ardan kembali kerumahnya setelah mengecup kening Puang Marani.

Puang Marani hamil, tanpa ayah. Tidak ada yang curiga. Puang Marani Melahirkan dengan menyisakan senyuman kebanggaan kepada keluarganya. Puang Marani melahirkan anak tuhan, kata keluarganya dan penduduk desa kebanyakan.

“Anak tuhan lahir dikampung kami” kata penduduk yakin.