SELAMAT DATANG

INI RUANG UNTUK KALIAN
DENGAN DALIH KEBERSAMAAN MARILAH KITA
RANGKAI PERTEMUAN INI DENGAN KARYA,
HINGGA RINDU TAK PERNAH BERLABUH DARI KERINDUANNYA.
KERINDUAN ITU TERKADANG DARIKU, KAU, DIA DAN DIA

Kebersamaan

Kebersamaan
Di Desa

Sabtu, 27 Februari 2010

SEBELUM AKU MENGAKHIRI

Supratman Yusbi Yusuf


Sebelum aku mengakhiri, Izinkan aku membahagiakanmu di detik-detik terakhir menjelang perkawinanmu...
Pagi ini membuatku terasa malas, kepala terasa berat untuk diangkat oleh tubuh ini walaupun hanya satu centimeter saja, mata pun ikut-ikutan, enggan juga rasanya dia memandang lebih lama. Langit-langit kamar seperti manyanyikan lagu nina bobo’. Sambil sesekali berbisik “tidurlah anak muda, sebentar kau bangun, kau butuh istrahat”.
Diluar kudengar teriakan penjual nasi kuning yang tiap pagi datang di depan kostku. Bunyi lonceng sepedanya membuat suasana pagi yang dikuasai kemalasanku terasa berisik. Ingin rasanya aku memarahinya lalu melemparkan semua nasi kuning jualannya. Bila melawan akan kuusir dia. Ini kan kostku, aku berhak mengusirnya untuk mendapat ketenangan. Kalau dia menuntut ganti rugi akan kuberikan uang lima puluh ribu, lalu kembali menyuruhnya pergi secepat mungkin. Namanya juga ganti rugi, orang sepertinya tidak perlu dikasihani. Kalau pun akhirnya dia melapor ke Polisi, aku juga punya kolega di kepolisian. Aku akan memanggil orang itu dan dia akan kutuntut balik karena telah menganggu ketenanganku. Polisi kan bertugas menjaga ketenangan dan ketertiban masyarakat. Dia tidak akan punya alasan pembenaran sama sekali, karena bagaimana pun tempat kost itu bukan tempat jualan nasi kuning. Kalau dia berdalih tidak punya tempat jualan karena dilarang oleh petugas ketertiban kota. Itu bukan urusanku lagi. Pokoknya dia akan kalah kalau melapor ke Polisi. Pokoknya orang kecil seperti dia tidak akan menang di dunia ini kecuali jualannya laku tanpa ada yang tertinggal basi.
“kuning, kuning... nasi kuning, kuning kuning.... nasi kuning, nasi kuning oeeee...” teriaknya
Geram juga akhirnya aku mendengarnya, teriakannya begitu mengusik dan membuyarkan imajinasi setengah tidurku. Imajinasi yang membuat dia sampai ke Polisi. Segera kuberdiri hendak keluar menemui penjual nasi kuning yang berisik itu. Aku akan mengusirnya kalau dia tidak mau pergi, aku akan berlaku kasar terhadapnya. Kaki kuayunkan secepat mungkin menuruni tempat tidur. Tapi tiba-tiba sebuah novel karya Paolo Coelho dengan judul Sang Alkemis yang telah mengantar tidurku semalam terjatuh ke lantai. Beberapa lembar foto berserakan telah menghalau langkahku untuk mengusir penjual nasi kuning itu.
Teriakan-teriakannya tidak terdengar lagi, foto-foto berserakan itu telah melarutkan semua kemalasan, kejengkelan dan kegeraman menjadi kerinduan. Kupunguti foto-foto itu dan tanpa menyadari aku telah lama memperhatikan lembar per lembarnya. Aku tidak mampu menjelaskan itu foto siapa. Yang jelas dia sebentar lagi akan menutup riwayat cintanya padaku.
Pada sebuah acara salah satu organisasi perhimpunan antara mahasiswa yang konsen membahas persoalan bumi dan lingkungan sekitar. Gadis yang energik hingga dia nampak kelihatan tomboy, tetapi tetap menitipkan aura feminim pada mata-mata yang memandangnya. Awalnya aku segan menyapanya bahkan sampai kegiatan selesai pun aku belum mengeluarkan sepatah kata pun untuknya. Aku Cuma memandangnya dari jauh, ia begitu lincah dan tertawa bersama temannya. Dari temanku aku tahu dia seorang mahasiswi sekampusku, salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di kotaku, Makassar. Berlian namanya.
Selepas acara aku pun kembali ke kost. Kurebahkan tubuh di atas kasur. Terasa letih menyerang tubuh yang kurus ini. Walaupun kata orang-orang tubuhku tinggal tulang dan dosa, aku tetap enjoy. Sebenarnya aku pun kurang percaya akan adanya nilai perbuatan manusia. Adanya upah akan perbuatan yang dilakukannya. Kalau kita berbuat baik, akan dapat pahala. Kalau buruk akan dapat dosa. Baik dan buruk itu ukuran siapa,? Pikirku.
Menurut ukuranku sendiri, berbuat baik itu bila ada kesesuaian antara pikiran dan perbuatan. Rasanya tiap hari aku telah berbuat baik, jadi tidak ada dosa yang terbungkus oleh kulitku yang kecoklatan ini. Kukusut-masai rambutku, panjangnya sudah sampai sebahu. Pernah suatu hari ibuku marah-marah tentang rambutku yang panjang ini. Hal itu terasa lucu dikenang.
Waktu itu aku ketiduran di sofa rumahku. Tiba-tiba Ibuku datang dari atas kepalaku sambil membawa gunting. Untung aku belum tertidur nyenyak, aku rasa dia memegang rambutku dan mendekatkan gunting di kepalaku. Aku pun spontan berdiri dan membuatnya kaget. Gunting terlepas dari tangannya dan ikut bergantung pada rambutku yang lebat dan tidak lurus. Merasa misinya gagal dia pun menempuh misi lain yakni marah sepuasnya.
“owe, kau potong itu rambutmu, sudah panjang kayak setan saja” katanya.
Aku Cuma terdiam dan tersenyum sambil membuka gunting yang bergantung di rambut.
“kau liat itu badanmu kurus sekali, seperti kayak tulang dan dosa saja. Semua nasi yang kau makan itu semua dimakan rambutmu, jadi kau tambah kurus”
Dia sebut juga kalimat tulang dan dosa itu. Ibu... ibu... dari mana pula kau dapat istilah itu. Aku tetap diam.
“liat itu kau kayak preman, badan kurus, muka lonjong, rambut panjang, kumis tebal. Sangat jauh seperti ayahmu waktu aku kenal dulu. Badan tegak, kulitnya halus kayak prempuan yang membedakannya kumisnya rapi” katanya lagi
Setan, tinggal tulang dan dosa, preman, diperbandingkan lagi. Ah... sabar, itu Ibuku. Aku menghargainya karena surga di telapak kakinya.
“ini gaya masa kini bu...” jawabku waktu itu dan dia terus membalas dengan umpatan.
Tiba-tiba khayalanku kembali terputus. Handphone yang di kantong celana mendering. Sebuah pesan singkat untukku.
“Ass. dngn ka’ Ammang ya? M’f ganggu ka’? aku mw nax ssua2. Blh ng? berlian”
Sontak aku kaget, dari mana dia dapatkan nomor handphoneku. Aku pun segera membalasnya.
“iya, bnar dinda. Knpki?”
“kata tmnku qta sring baca buku ya?hehehe, katax juga buku yg mngkaji soal kebudayaan”.
“oh... dari mana kau tahu?”
“dari teman kakak, kak Anto”
“oh... tidak juga sih”
Smsan pun terus berlanjut. Hingga tercipta sebuah janji untuk bertemu. Besok sore aku harus menemuinya disebuah warung kopi, sesuai dengan permintaannya aku harus mebawakannya literatur-literatur tentang budaya. Dia ingin mendalami persoalan budaya, katanya.
Sesuai janji kami berdua, aku pun menepatinya dan membawakannya buku yang berjudul “dunia yang dilipat” karya Yasraf Amir Pilliang. Dia senang menerima buku itu.
Dia kemudian bercerita panjang lebar tentang budaya di daerahnya, hingga akhirnya dia pun bercerita tentang keluarganya dan segala tetek bengeknya. Aku sendiri tidak begitu tahu, mengapa dia begitu terbuka padaku. Pertemuan demi pertemuan pun kerap kali terjadi. Hingga aku sendiri malas untuk menghitung pertemuan itu. Hampir tiap waktuku habis untuknya, membalas smsnya yang kadang manja dan nakal dengan pertanyaan ataupun dengan pertemuan-pertemuan baik itu di kampus maupun di luar kampus.
Tak terasa waktu berputar semakin mendekatkan kami. Seakan tiap malam adalah jadwal rutin kami untuk bertemu. Ada-ada saja yang dibicarakan pada pertemuan-pertemuan tiap malam itu. Seakan topik tak pernah habisnya untuk dibahas. Dia kadang mengungkapkan seluruh kegundahan, kejengkelan, sampai kebahagiaannya padaku. Kisah tentang temannya, kisah tentang lelaki yang merayunya semua di bahasakan melalui bibirnya yang entah berapa kali tersenyum padaku.
Semuanya berlalu begitu cepat. Mulai dari sms hingga berujung pada janji pertemuan. Petemuan yang melahirkan kedekatan, dan kedekatan itulah yang membawa kami pada sebuah kesenangan dan merasa cocok untuk tetap bersama. Hingga akhirnya aku menyatakan ingin memilikinya selamanya. Hadir dalam setiap hidupku, memberiku senyum yang lebih banyak lagi dari yang dia berikan selama ini. Dan dia pun mengiyakan.
Proses itu terasa lebih cepat di bandingkan denyut nadiku.
Dua tahun telah berlalu, aku menemuinya di kantin kampus sore itu. Kuliat dia menjinjing beberapa buku. Dia sedang menyusun skripsi, tidak akan lama lagi dia selesai mendahuluiku. Itu bukan menjadi masalah karena memang aku terlalu malas untuk mengikuti sebagian mata kuliah. Kadang karena tertidur dan malas bangun disebabkan begadang semalaman, urusan organisasi, atau hanya sekadar bercakap-cakap bersama teman membahas bualan.
Dia memintaku untuk membantu mencari bahan skripsinya. Aku senang dapat membantunya, sangat beda rasanya ketika Ibu atau adik perempuanku meminta bantuan terhadapku. Beberapa kali aku sempat mengantarnya ke berbagai perpusatakaan atau berusaha meminjamkan buku-buku kenalanku yang berkaitan dengan bahan skripsinya. Hingga akhirnya skripsinya pun selesai.
Aku pun juga merasakan kebahagiannya saat ujian akhirnya telah terjadwalkan. Namun, ada hal aneh yang memancar dari raut mukanya kali ini. Selama aku mengenalnya dua tahun terakhir ini raut muka itu sulit aku maknai. “Dia telah menyembunyikan sesuatu” pikirku.
Suatu sore sambil memandang kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Di sebuah warung kopi di batas kota, dia mengunkapkan hal yang begitu pahit untuk dikenang. Terasa waktu itu seluruh badan kaku, mata yang di pagi buta malas membelalak kini melotot lalu berkaca-kaca. Terasa tak percaya akan ucapannya. Dia pun mengusap matanya takut dilihat oleh orang lain kalau dia sedang menangis. Bagiku itu pertanda nasi sudah menjadi bubur. Kami berdua terdiam.
“sayang, kau tahu aku memanggilmu ke batas kota ini?” katanya memulai
“untuk minum kopi” jawabku
“bukan Cuma itu sayang”
Aku memandangnya tanpa suara meminta penjelasan.
“tadi pagi, pemuda di sebelah batas kota ini telah datang kerumahku. dia telah berbicara dengan orang tuaku dan hasilnya orang tuaku setuju. Aku anaknya dan aku ingin membahagiakannya, tetapi bukan berarti mau menyakitimu. Dia telah melamarku. Batas kota ini akan memisahkan kita setelah ujian skripsi nanti. Aku masih ingin kau mengantarkan aku besok untuk ujian, sebagai bukti kemenangan kita yang telah bersama menyusunnya, sayang” jelasnya
Kata sayang yang terakhir, beserta embel-embel sebelumnya itulah yang sulit bermukim di benak dan jiwaku. Ingin aku membuangnya tapi kata-kata itu telah melekat di takdirku. Pernahkah kalian bayangkan, betapa sulitnya menerima kenyataan ini. Mengantarkan kekasih untuk terkahir kalinya di ujian akhir pula dan setelah itu kita tahu sendiri bahwa dia tidak lagi bersama kita. Batas kota telah memisahkan jarak yang tak begitu jauh dan dia telah menjadi milik orang lain yang resmi menurut agama dan adat. Aku telah tahu bahwa sebagian baik dan buruk itu diatur oleh agama dan adat.
“lalu kau katakan apa pada lelaki itu? Tanyaku mencoba menguasai diri.
“tidak berkata apa-apa, aku Cuma menangis”
“kenapa kau tidak menolaknya?, kenapa kau terima, aku tidak percaya kau sebodoh ini, kau pasti bermain-main kan? Kau mau menguji kan?” tidak aku rasa suaraku semakin besar dan berdiri dari kursi sambil menunjuk-nunjuknya. Aku sadar bahwa aku larut dalam kesedihan bercampur emosi dan para pengunjung berbalik pada meja kami.
Dia tetap saja menangis, menangis dan menangis. Dia menangis tanpa suara tapi air mata yang di pelipis sebagai jawaban bahwa dia takut padaku yang telah kasar dan membentaknya. Kembali aku duduk pada kursi.
“maafkan aku yang tidak bisa menolaknya, aku ingin membahagiakan ibuku, itu saja” katanya
Apakah orang tua lebih penting di bahagiakan daripada orang lain? sungguh sesuatu hal yang aneh bagiku. Mengapa semua orang harus berpikir yang sama dan satu ujung, membahagiakan orang tua. Mengapa? Mengapa mesti itu terjadi kalau membuat orang lain tersakiti. Dunia ini yang sakit atau aku yang kurang mengerti.
“lalu, kau rela sekarang?” tanyaku
Dia mengangguk. Pikiranku kembali menerawang jauh, berusaha mengumpulkan kisah-kisah hidupku yang terdahulu hingga pada malam ini, di batas kota ini. Tiba-tiba memory ini berhenti pada sosok wanita sebelum dia.
Sebelum aku menyayanginya dua tahun yang lalu, aku telah berusaha melupakan seorang wanita yang pernah hidup dalam jiwaku dengan subur. Aku meninggalkannya karena terlalu posesif. Tapi dia sangat menyayangiku katanya. Aku kembali teringat dengannya, apakah perasaannya yang dulu sama dengan perasaanku sekarang. Sudahlah... aku ingi melupakanmu, kanapa kau muncul lagi? Bodoh...
“kenapa ini bisa terjadi sayang” tanyaku agak melunak.
“ibu bilang, sejak kecil aku telah dijodohkan dengannya” jawabnya
“lalu kenapa tidak bilang dari dulu?” tanyaku sambil mengelengkan kepala sekali lalu tunduk menanti jawaban.
“aku juga baru tahu kemarin”
“bukankah seluruh seluk beluk keluargamu telah kau ceritakan?, mengapa hal sekecil ini, yang sangat berkaitan dengan pribadimu tidak kau tahu?”
Dia terdiam lama dan kembali menangis, menangis tanpa suara hanya air mata yang diusapnya.
“sudahlah, izinkan aku membahagiakanmu didetik-detik terakhir menjelang perkawinanmu”kataku pasrah
Dia mengangkat kepala, memandangku lalu kembali tertunduk, dia menangis kali ini dengan isakan. Aku mendengarnya.
“jangan menangis” kataku
“mau kan? Kau mengantarkanku besok?” tanyanya
“iya”
Keesokan hari aku mulai bangun. Walaupun air pagi hari enggan aku rasakan. Kupaksakan diriku untuk menyentuhnya. Ini adalah tugas terakhirku untuknya. Mengantarkannya ujian akhir. Sungguh berat terasa langkah kaki keluar dari pintu kamar kost. Kubunyikan motor dan beberapa menit kemudian motor pun melaju menuju kostnya. Aku menjemputnya untuk yang terakhir kalinya dan sore mengantarnya ke pantai untuk melihat matahari terakhir dalam kebersamaan dan mengantarnya lagi untuk yang terakhir kalinya balik ke kostnya.
Tugas terakhirku telah aku lakukan dan berakhir dengan kata semoga kau bahagia. Gadis tomboy, tetapi tetap menitipkan aura feminisnya pada sepasang mata yang memandangnya. Menyesal aku membalas smsmu waktu itu. Seandainya aku tidak membalasnya maka aku tidak seperti ini. Memandangi fotomu dan membayangkan wajah Fatimah, gadis gurun kekasih santiago dalam buku Paolo Coelho itu mirip denganmu.
Hari ini adalah hari perkawinanmu. Kau telah mengundangku. Namun aku malas untuk bangun dari tidurku, hingga penjual nasi kuning yang mengusik tidurku itu telah mengantarkan aku pada keikhlasan untuk melupakan kenangan.
Sebelum aku mengakhiri. Izinkan aku membakar kenangan bersama fotomu...

0 komentar: